Crossdresser, Gay & Transeksual

Tulisan ini terinspirasi dari curhatan seorang teman

.

.

“Aku batal nikah. Aku baru tahu kalo dia Waria. Dia suka pake baju dan make up cewek kalo lagi sendirian didalam kamar”

 

Itulah kata-kata Diana disela-sela obrolan kami beberapa minggu lalu. Berawal dari ketidaksengajaan ketemu dijalan, Diana -temanku semasa SMA- kuajak mampir kerumah. Hanya ditemani dua gelas teh hangat dan beberapa cemilan kami mengobrol banyak hal. Mulai dari teman-teman, guru-guru, mantan pacar hingga pada batalnya rencana pernikahan Diana.

Awalnya aku kaget ketika Diana bilang kalo dia batal nikah dan makin tercengang lagi dengan alasan yang dia kemukakan.

Dengan ekspresi jijik Diana bilang kalo cowoknya ternyata seorang Waria. Dia gak sengaja memergoki pacarnya berfoto dengan memakai dress mini dan make up didalam kamar. Meskipun cowoknya bilang dia bukan waria dan berdandan layaknya perempuan hanya sebuah kegemaran semata, namun Diana tetap tidak percaya. Diana takut. Mungkin hari ini dia hanya memergoki pacarnya memakai pakaian perempuan, tapi bisa saja kalo mereka jadi nikah nanti dia akan memergoki pacarnya ciuman sama cowok.

Sebagai sesama perempuan aku mengerti dengan kekhawatiran yang Diana rasakan. Namun setelah Diana cerita semua uneg-unegnya, aku pun mulai paham dengan keadaan yang sebenarnya terjadi, dan kucoba untuk memaparkan masalah mereka dari sudut pandang Psikologi.

Alhamdullilah Diana paham dengan semua penjelasanku. Akan tetapi sepertinya semuanya sudah terlambat. Keputusan akhir telah dibuat. Orang tua Diana sangat geram saat Diana cerita kalo calon mantu mereka seorang waria. Mereka langsung mendatangi keluarga calon besan untuk membatalkan pernikahan dengan alasan ini adalah sebuah aib.

Sejak saat itu bukan hanya hubungan Diana dan calon suaminya yang hancur, namun hubungan kedua keluarga juga sangat buruk.

Kini Diana menyesal. Hubungan yang dibangunnya selama hampir empat tahun hancur begitu saja karna ketidak-mengertian akan keadaan pasangannya hingga mengambil keputusan yang salah dan menyakiti banyak orang.

.

.

BWAHAHAHAHA XDDD setelah tak baca ulang, tulisan diatas koq jadi kayak cerita fiksi. hehehe 😀 Sudahlah abaikan, baca yang dibawah ini saja.

Dari apa yang semua Diana ceritakan saat itu, aku mengambil kesimpulan kalo calon suaminya adalah seorang Crossdresser, bukan Waria, bukan Gay.

Kasus yang dialami Diana mungkin tidak banyak dijumpai, tapi pasti ada dilingkungan kita. Dan masih banyak orang yang masih bingung atau bahkan sama sekali tidak mengerti dengan perbedaan ketiga ‘jenis’ manusia diatas, hingga sering salah men-judge dengan apa yang dilihatnya.

Sini aku coba jelasin satu-satu ^^

Crossdresser adalah orang yang suka memakai atribut lawan jenisnya. Laki-laki memakai pakaian perempuan atau sebaliknya. Namun istilah crossdresser lebih sering ditujukan pada laki-laki karena budaya di Indonesia sudah terbiasa melihat perempuan memakai pakaian laki-laki.

Waria disebut transeksual atau transgender yaitu orang yang mempersepsikan diri secara psikologis sebagai anggota dari gender yang berlawanan dengan anatomi tubuh mereka. Jadi waria diartikan sebagai laki-laki yang merasa sebagai perempuan.

Gay disebut Homoseksual yaitu seorang laki-laki dengan gender tetap sebagai laki-laki dan menyukai orang dengan anatomi tubuh dan gender yang sama dengan dirinya. Gampangnya cowok suka cowok.

.

Masih bingung???

Sini tak jelasin lebih lanjut ^^

.

Para Crossdresser adalah laki-laki yang suka memakai atribut perempuan. Namun gendernya tetap sebagai laki-laki dan TERTARIK secara seksual pada perempuan, hanya saja dia memiliki kecenderungan aneh untuk memakai atribut perempuan. Kecenderungan itu biasanya dikarenakan adanya kepuasan psikologis ketika memakai baju, sepatu atau make up perempuan.

Untuk seorang crossdresser yang menderita gangguan Tranvestik Fetishisme, mereka memakai atribut perempuan dengan tujuan untuk mencapai keterangsangan atau kepuasan seksual (orgasme). Mereka akan melakukan hubungan seksual dengan PEREMPUAN tetapi dengan memakai atribut perempuan secara lengkap. Kalo gak gitu, mereka akan sulit untuk terangsang atau mencapai orgasme. Jangan tanya kenapa? namanya juga gangguan. Dan aku tekankan SEKALI LAGI, para crossdresser melakukan hubungan seksualnya dengan perempuan BUKAN dengan sesama laki-laki, karna orientasi seksual mereka masih normal.

Crossdresser tidak seperti waria yang memakai atribut perempuan ditempat umum. Biasanya para crossdresser akan melakukan aksinya ketika keadaan ruangan sepi dan tidak ada orang, atau mereka akan melakukan crossdressing didepan sesama crossdresser lainnya dan membentuk suatu komunitas. Ada juga crossdresser yang menunjukkan kebiasaan ini pada orang-orang yang ia anggap dekat dan mampu dipercaya, seperti pacar atau istri.

.

Waria. Sebenernya aku lebih suka menggunakan istilah transeksual atau transgender. Karna menurut beberapa referensi yang tak baca, gangguan ini SANGAT jarang terjadi. Tapi kenapa banyak banget waria bergelantungan dimana-mana? Tanyakan saja pada tuntutan hidup mereka, hahaha 😀

Transeksual/transgender terjadi karna adanya konflik antara anatomi gender (bentuk tubuh) dengan identitas gendernya, sehingga secara psikologis mereka MERASA terjebak ditubuh yang salah. Jadi seorang laki-laki yang MERASA dirinya perempuan dan terjebak dalam tubuh laki-laki.

Seorang transgender laki-laki akan TERTARIK secara seksual pada laki-laki dan MENOLAK disebut Gay, karena mereka MERASA sebagai perempuan. Mereka juga memakai atribut perempuan lengkap, bahkan bertingkah laku dan melakukan peran perempuan. Atribut perempuan yang mereka gunakan bukan karna untuk mendapatkan rangsangan atau untuk mencapai kepuasan seksual, tetapi karna mereka merasa bagian dari gender perempuan.

.

Gay atau Homoseksual adalah laki-laki TULEN yang memiliki ketertarikan seksual pada sesama laki-laki.

Berbeda dengan transgender yang merasa perempuan namun terjebak dalam tubuh laki-laki, Gay TIDAK merasa demikian. Para Gay SADAR sepenuhnya bahwa mereka adalah laki-laki. Mereka memiliki perasaan yang sama antara identitas gender dan anatomi gendernya.

Ketika ada Gay yang memakai atribut perempuan, itu lebih dikarenakan mereka ingin menarik perhatian laki-laki LAIN. Bukan karena untuk mencapai kepuasan seksual seperti penderita Tranvestik Fetishisme, atau karena merasa ‘perempuan’ seperti para transgender.

.

.

Gimana, uda ngerti?? hahaha XDDD kalo belum ngerti…langsung tanya aja, oke?? 😀 Dan kalo diantara penjelasanku ada yang salah langsung koreksi aja gpp…:)

Aku cuma mau berpesan sama siapa aja yang baca tulisan ini. Jika ada sesuatu dari orang terdekat kalian yang kalian anggap ‘aneh’ dan kalian tidak paham akan keanehan itu, cobalah untuk bertanya dulu pada orang yang ahli dan mengerti akan hal itu. Jangan langsung menghakimi hingga akhirnya membuat keputusan yang salah dan menyakiti orang-orang yang tidak seharusnya tersakiti.

Dan jika ada seorang diantara kalian -yang kebetulan- memiliki pasangan seorang crossdresser, maka akan sangat bijak sekali untuk menyimpan ‘keanehan’ itu sebagai rahasia kecil hubungan kalian. Cobalah untuk mengerti dan memahami keadaannya selama itu tidak menghambat jalannya hidup kalian. Apabila dia ingin sembuh, dampingilah dia dan beri semangat. Karna kesembuhan orang-orang seperti itu butuh cinta dari kalian.

Iklan

10 thoughts on “Crossdresser, Gay & Transeksual

  1. pertama-tama, saya mau mengucap syukur pada Allah SWT karena blog mu sudah berubah nama!!! hahahaha….

    kedua, lapo iki koq maleh akeh bunga matahari??? awakmu saiki seneng mangan kuaci tahh???

    ketiga, aku baru ngerti ngene ki jummm. huakakakak~~~ #nang endi ae!!

    keempat, seharusnya kau lanjutkan hobimu gawe cerpen ato novel. awakmu bakat ndek kunu…

    kelima, tak reblogg tulisanmu iki. hehehehe

    • Hahaha… aku yow ket maeng isuk ngganti tema & nama blog. XDDD

      dan opo o koq bunga matahari? tanyakan pd sunflower tetangga yg 3hari ini membuatku mellow.. kkkk

      aku emg sek ttp nulis fiksi Jum, mskpn cerita pendek. Ngkok kon tak dudui hasil karyaku, inbox aje ye Cyiiiiinnn~~~

      Rebloglah sesuka hatimu, anything for U Jummm~ *cipok*

  2. Crossdresser,, hmmmm…
    kalau yang ikutan cosplay (cowo) trus pilih karakter cewe? kira2 crossdresser juga gak ya? tapi cuma sekali..

    • Kalo crossdresser itu biasanya disertai keinginan kuat yg terus menerus ingin memakai atribut lawan jenis. Disertai dengan adanya kepuasan scra psikologis ketika melakukan itu. ‘Kebiasaan’ ini biasanya juga untuk konsumsi pribadi tanpa dipertontonkan pada orang lain.

      Sedangkan Cosplay, setahu saya orang yg memakai atribut tokoh2 animasi agar tampak serupa dengan tokoh yg ia imitasi (CMIIW). Mereka melakukan itu untuk dipertontonkan pada orang lain.

      Jadi untuk sementara ini kesimpulan saya beda antara seorang Cosplayer dg Crossdresser.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s